Pemkab Mojokerto Gelar Gema Pitu di Jatipasar, Dorong Transformasi Posyandu Terintegrasi
Pemkab Mojokerto menggelar Gema Pitu di Trowulan untuk mempercepat penurunan stunting dan mensosialisasikan Posyandu Terintegrasi Terpadu 6 bidang SPM.
MOJOKERTO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto kembali menggelar Gerakan Bersama Masyarakat di Posyandu Terintegrasi Terpadu (Gema Pitu). Program ini dilaksanakan sebagai upaya Pemkab Mojokerto memperkuat percepatan penurunan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan dasar bagi masyarakat.
Gema Pitu kali ini berlangsung di Kantor Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Selasa (4/8/2026). Agenda tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Mojokerto, Shofiya Hanak Albarra, Lc., atau yang akrab disapa Ning Hana.
Dalam arahannya, Ning Hana mengingatkan masyarakat untuk memahami perbedaan antara pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan berkaitan dengan aspek fisik seperti tinggi dan berat badan, sedangkan perkembangan mencakup kemampuan otak, kecerdasan, serta keterampilan anak yang harus dipantau secara berkala. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sebagai pedoman utama.
"Buku KIA ini jimat panjenengan. Di sini ada kolom-kolom stimulasi untuk mendukung perkembangan yang wajib diisi orang tua, bukan diisi kader," kata Ning Hana, Selasa (4/8/2026).
Selain itu, Ning Hana memberikan edukasi terkait pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) sesuai tahapan usia dengan mengutamakan bahan alami serta membatasi penggunaan gula, garam, dan penyedap rasa.
Masyarakat, khususnya para ibu, diimbau untuk menghindari risiko kehamilan melalui penerapan prinsip 4T (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak kehamilan, dan terlalu banyak melahirkan). Ia juga mengingatkan bahaya paparan asap rokok yang dapat menghambat penyerapan nutrisi pada janin sehingga berpotensi meningkatkan risiko stunting.
Ning Hana menjelaskan bahwa Gema Pitu menjadi sarana edukasi dan sosialisasi transformasi Posyandu menjadi Posyandu Terintegrasi Terpadu. Menurutnya, Posyandu kini tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan, tetapi berkembang menjadi pusat pelayanan masyarakat yang mencakup enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM), yaitu pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, dan bidang sosial.
"Posyandu ini mengalami perubahan, sebenarnya lebih terintegrasi, lebih komplit. Yang dulunya hanya dalam pelayanan kesehatan, sekarang ditambah lagi dengan bidang-bidang yang lainnya," ujar Ning Hana.
Pada bidang pendidikan, ia menyoroti pentingnya membangun budaya literasi sejak usia dini. Para orang tua diimbau tidak mengenalkan gawai (gadget) kepada anak usia 0 hingga 2 tahun demi mengoptimalkan masa emas perkembangan otak melalui interaksi langsung dan media buku.
"Anak usia 0 sampai 2 tahun monggo dimaksimalkan mengenal literasi itu lewat buku saja. No screen time, tidak ada dikenalkan gadget. Karena di usia itu masa perkembangan otaknya sangat pesat," terangnya.
Ning Hana juga mengajak masyarakat proaktif melaporkan keberadaan Anak Tidak Sekolah (ATS) di lingkungan sekitar. Menurutnya, berbagai faktor penyebab seperti kendala ekonomi, pernikahan dini, perundungan, hingga disabilitas perlu diidentifikasi agar anak dapat memperoleh penanganan tepat melalui pendidikan formal maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

