Perkuat Ekosistem Lingkungan, Pemkot Mojokerto Sosialisasi Budaya RT Berseri
Wali Kota Mojokerto Ning Ita sosialisasikan program Budaya RT Berseri di Kelurahan Meri, Mentikan, dan Kedundung sebagai gerakan perubahan perilaku masyarakat.
Mojokerto – Pemerintah Kota atau Pemkot Mojokerto terus memacu partisipasi masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan melalui program Budaya RT Berseri. Program ini ditegaskan bukan sekadar kompetisi kebersihan, melainkan gerakan kolektif di tingkat Rukun Tetangga (RT) untuk mewujudkan lingkungan yang sehat, bersih, dan berkelanjutan.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, turun langsung melakukan sosialisasi program ini di sejumlah titik, di antaranya Kelurahan Meri, Mentikan, dan Kedundung. Sosialisasi ini dilakukan bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait pada Kamis (12/3/2026).
Pihaknya menjelaskan bahwa Budaya RT Berseri dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat dalam mengelola lingkungan dari lingkup terkecil. Keterlibatan warga menjadi kunci utama, mulai dari penghijauan hingga pengelolaan sampah mandiri di permukiman.
“Ini bukan lomba kebersihan lingkungan. Budaya RT Berseri kami rancang sebagai gerakan perubahan perilaku agar kebiasaan menjaga kebersihan, menanam tanaman, hingga memilah sampah dilakukan secara konsisten dan menjadi budaya di lingkungan RT,” tegas sosok yang akrab disapa Ning Ita tersebut.
Digitalisasi dan Kolaborasi Lintas Sektor
Dalam pelaksanaannya, seluruh RT di Kota Mojokerto diwajibkan terlibat sebagai peserta. Setiap RT melakukan pengisian data secara digital melalui aplikasi Gayatri RT Berseri dengan melampirkan bukti autentik kegiatan di lingkungan masing-masing.
Proses penilaian program ini melibatkan kolaborasi lintas perangkat daerah, mulai dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas PUPRPERAKIM, hingga Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
Indikator penilaian mencakup aspek lingkungan hidup yang komprehensif, seperti penataan jalan atau gang, pembuatan lubang resapan biopori, konservasi air, pemilahan sampah rumah tangga, hingga intensitas kerja bakti warga.
Fokus Kesehatan dan Ketahanan Pangan
Selain infrastruktur fisik, aspek kesehatan masyarakat menjadi variabel penting. Indikatornya meliputi ketersediaan sarana Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di tiap rumah, Angka Bebas Jentik (ABJ) nyamuk, serta pemantauan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Dari sektor ketahanan pangan dan infrastruktur, penilaian menyasar pada pemanfaatan lahan pekarangan, partisipasi warga dalam bercocok tanam, ketersediaan sarana sanitasi, akses air minum layak, hingga kondisi drainase lingkungan.
Ning Ita menyebut, program ini selaras dengan program nasional Indonesia Asri (Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang dicanangkan pemerintah pusat.
“Gerakan yang kita lakukan di tingkat RT ini relevan dengan program nasional Indonesia Asri, khususnya pada aspek sehat, resik, dan indah. Ini adalah bagian dari upaya kolektif mendukung agenda nasional sekaligus memperkuat pembangunan kota yang berkelanjutan,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


