TIMES MOJOKERTO, JAKARTA – Dua sekutu Amerika Serikat dan Israel ragu-ragu untuk menyerang Iran atas dalih unjukrasa yang mematikan karena khawatir atas pembalasannya yang meluas.
Kedua pemimpin itu, Benjamin Netanyahu dan Donald Trump, Jumat (16/1/2026) kemarin membahas perkembangan tentang Iran melalui telepon.
Sumber-sumber di Israel seperti dilansir Al Jazeera mengatakan, Netanyahu telah meminta Trump untuk menunda tindakan militer potensial apa pun terhadap Iran.
Donald Trump selama ini tidak pernah mengesampingkan tindakan militer untuk menuruti ambisinya tak terkecuali terhadap Iran.
Saluran televisi Israel, Channel 12 yang mengutip sumber anonim mengatakan, bahwa pembicaraan pertelepon antara Netanyahu dan Trump itu masih terus mempelajari berbagai opsi, termasuk jalur militer dan diplomatik, tapi tanpa membuat keputusan akhir.
Sumber-sumber itu menyebutkan, bahwa Benjamin Netanyahu telah meminta kepada Donald Trump untuk "menunda" kemungkinan tindakan militer apa pun, karena khawatir pembalasan yang akan dilakukan Iran.
Kepala Mossad, David Barnea, Jumat kemarin juga berkunjung ke Amerika Serikat untuk berkoordinasi dan menyampaikan pengamatan Israel tentang jalur militer dan diplomatik dalam menghadapi Iran.
Sebelumnya, Axios juga mengutip lima sumber Amerika, Israel, dan Arab yang mengetahui informasi tersebut, yang menyatakan bahwa presiden AS telah menunda serangan militer terhadap Iran, sementara Gedung Putih mengadakan konsultasi internal dandengan sekutunya itu tentang waktu pelaksanaan operasi dan apakah hal itu akan menggoyahkan rezim.
Situs web tersebut mencatat bahwa opsi militer terhadap Iran tetap menjadi pertimbangan kuat mengingat penanganan Teheran terhadap protes yang sedang berlangsung, tetapi keputusan Trump untuk menunda mencerminkan keadaan ketidakpastian yang mendalam di dalam pemerintahan AS dan di antara sekutunya mengenai dampak dari opsi tersebut, dan reaksi pembalasan yang meluas yang mungkin timbul akibatnya.
New York Times juga melaporkan bahwa Israel memantau dengan cermat protes di dalam Iran, tetapi tidak mengantisipasi intervensi militer pada tahap ini.
Surat kabar itu mengutip para analis dan ahli yang mengatakan bahwa rezim Iran masih jauh dari ambang kehancuran, dan bahwa unjukrasa kali ini tidak cukup untuk menjatuhkannya.
Para ahli ini percaya bahwa kehati-hatian Israel juga dibenarkan, mengingat risiko respons Iran terhadap Israel sangat besar, termasuk kemungkinan pecahnya perang baru yang sangat besar.
Itulah sebabnya Israel sangat hati-hati menyikapi situasi di Iran dan Benjamin Netanyahu menyarankan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk menunda rencana serangan militernya karena khawatir balasan Iran akan semakin luas. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Netanyahu dan Trump Bahas Iran, Serangan Militer Ditunda Khawatir Pembalasan Meluas
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Faizal R Arief |